fbpx

Keadaan pasar modal jika ditinjau dari perlambatan ekonomi global saat ini akan menyulitkan permodalan usaha di Indonesia, implikasi dari sistem perekonomian negara kita yang bersifat terbuka. Artinya permodalan Indonesia sangat bergantung dan dipengaruhi oleh keadaan pasar di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara di kawasan Eropa. Juga keaadaan di beberapa negara berkembang seperti Tiongkok, Singapura, dan India pun akan mempengaruhi permodalan di Indonesia. Pada sektor UMKM permerintah berupaya semaksimal mungkin permodalannya, sebagian besar bersumber dari investasi dalam negeri, seperti Permodalan Nasional Madani (PNM), Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan modal venture dari sektor swasta.

Berikut pernyataan kebijakan moneter Bank Indonesia pada bulan Maret 2016 dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (Bank Indonesia, 2016), yang menggambarkan strategi pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi khususnya terkait dengan penguatan pasar modal Indonesia saat kondisi pasar global yang fluktuatif.

  • Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2016 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6,75%, dengan suku bunga Deposit Facility menjadi sebesar 4,75% dan Lending Facility menjadi sebesar 7,25%, mulai berlaku 18 Maret 2016.
  • Ketidakpastian pasar keuangan global semakin mereda dengan kemungkinan kenaikan suku bunga AS yang lebih bertahap,serta kebijakan suku bunga negatif di Jepang dan Uni Eropa.
  • Pertumbuhan ekonomi domestik pada triwulan I 2016 berpotensi terus membaik, terutama didukung oleh akselerasi stimulus fiskal. Ditopang oleh konsumsi dan investasi pemerintah. Meningkatnya investasi pemerintah didorong oleh akselerasi belanja modal pemerintah yang terlihat cepat pada dua bulan pertama tahun 2016, sementara investasi swasta diperkirakanbaru akan meningkat pada periode-periode yang akan datang.
  • Neraca perdagangan pada Februari 2016 mencatat peningkatan surplus, ditopang oleh kenaikan surplus nonmigas. Aliran modal asing di pasar saham pada bulan Februari sudah tercatat positif, sejalan dengan prospek ekonomi domestik yang semakin baik.
  • Berlanjutnya aliran masuk modal asing dan menurunnya permintaan valuta asing untuk keperluan transaksi domestik telah mendorong penguatan rupiah. Tren apresiasi rupiah ditopang oleh meningkatnya aliran masuk portfolio asing, termasuk di pasar saham dan berkurangnya permintaan valas untuk keperluan transaksi domestik paska berlakunya PBI Kewajiban Penggunaan Rupiah.
  • Inflasi Februari 2016 semakin terkendali dan mendukung prospek pencapaian sasaran inflasi 2016 yakni 4,0±1%.
  • Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan kinerja pasar keuangan yang cukup kuat. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko pasar yang cukup terjaga. Selain itu, rasio kecukupan modal yang masih kuat mampu memelihara industri perbankan secara keseluruhan.
Call Now Button
WHATSAPP CHAT